Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Desember 2015

Pengaruh musik dalam kehidupan

Tulisan dengan judul "Musik dalam Kehidupan
" mestinya tak perlu saya tulis hari ini.Toh bukan sesuatu yang penting dan sekedar celotehan pribadi saya.Tidak perlu memang, sampai tadi malam....Saya menonton sebuah film berjudul "The Imitation Game".Bukan film baru memang, itu sebabnya saya tak bermaksud untuk mengulas film tersebut pada Intermezzo saya kali ini.Hanya saja ada sesuatu yang sangat menggangu dalam pikiran saya setelah menonton film tersebut.Bukan soal sejarahnya, atau soal bagaimana ternyata seorang ahli matematikalah yang menjadi aktor dibalik kemenangan Inggris atas Jerman.Bukan, bukan soal itu.Bukan film ini yang jadi pintu masuk artikel ini, melainkan  sosok Alan Turing lah (diperankan dengan ciamik oleh Benedict Cumberbatch sebagai ahli matematika dalam film tersebut) yang menjadi penggangu saya sehingga saya menuliskan artikel ini.Ini Intermezzo pertama. Melalui sosok Alan Turing saya ingin berceloteh ria seputar:Takdir (Destiny) dan memaafkan (Forgiveness) dalam hidup.(gaya lu tong kayak yang bener aja).Walaupun saya tahu bahwa film ini di angkat dari kisah nyata dan memenangkan banyak penghargaan, saya belum terpikir untuk menulis artikel ini, sampai...Saya membaca sebuah berita lama di internet dimana Ratu Inggris (Ratu Elisabeth 2) memaafkan Alan Turing setelah hampir 60 tahun kematianya.Bagaimana mungkin seseorang yang membantu negaranya untuk memenangkan perang dimaafkan?Jika dimaafkan bukankah berarti dia memiliki kesalahan.Hal ini membawa saya pada pertanyaan Alan Turing (ketika dia di interogasi oleh seorang detektif lalu dia menceritakan semua yang telah di lakukanya). "Now Detective" "You get to judge" "so tell me, what Am i?Am I a Machine? Am I a person?Am i a war hero?Am I Criminal?" "I can,t judge you" Aku tak bisa menilaimu jawab sang detektif.Untuk semua pertanyaan yang di ajukan Alan Turing. Lalu pertanyaan berikutnya, kenapa Alan harus di maafkan?Apa gerangan kesalahanya? kesalahanya adalah Dia memiliki selera seksual dan cinta terhadap sesama laki laki yang mana hal ini dulu adalah suatu pelanggaran di Inggris.Okeh fokus tulisan ini sendiri bukanlah untuk menghakimi siapapun dan bukan pula untuk membela kaum Gay.Yang jelas pengampunan itu adalah sebuah penghargaan bagi pria luar biasa (Alan Turing) kata Menteri kehakiman Inggris Chris Grayling.Ini intermezzo kedua.next... Penghargaan setelah kematian, yang dapat diartikan sebagai sebuah bentuk tindakan khusus kepada seseorang setelah orang tersebut meninggal dunia, mengingatkan saya akan sebuah lagu batak berjudul " uju di ngolukkon" yang sangat populer dan sarat akan makna pada masyarakat bersuku batak.Lagu ini sendiri diciptakan oleh Denny Siahaan.Lagu ini sendiri tercipta dikarenakan kondisi ayah nya yang sedang  sakit karena mengalami kecelakaan, dimana kaki dan tangan ayahnya patah, sehingga harus dirawat total.Dalam kondisi demikian munculah kejenuhan untuk merawat ayahnya karena harus di antar ke kamar mandi, harus di suap makan, harus dimandikan dan dibantu dalam berbagai hal.Lalu setiap kali dia jenuh untuk merawat ayahnya sang ibu selalu menasehati agar selalu berbuat yang terbaik kepada orang tua, karena tidak ada lagi gunanya berbuat baik jika orang tua sudah meninggal.Hal ini juga mengacu kepada adat masyarakat batak, dimana akan mengadakan pesta (bagi yang mampu) jika orang tua nya (biasanya jika sudah memiliki cucu) meninggal dunia. Lagu ini pun bisa digolongkan semacam otokritik terhadap adat masyarakat batak karena bercerita dari sudut pandang si orang tua, berikut beberapa penggal liriknya, dengan terjemahan yang saya sederhanakan dari beberapa sumber sehingga pada beberapa kata mengurangi makna puitisnya ( tapi pada intinya tetap sama demi pengertian bersama) "hamu anakkon hu, tappuk ni pusu pusuki, pasabar ma amang, pasabar ma boru laho pature-ture au"Kalian anak anaku, daun jantungku sabarlah anak anaku untuk menolongku "Nunga matua au jala sitogu togu on i, sulangon mangan au, siparidion au, alani parsahitonki"Aku sudah tua, harus di bantu bantu, di suapin makan aku, dimandikan aku, karena penyakit yang menghinggapiku "Somarlapatan maraende, margondang, marembas hamu molo dung mate au, somarlapatan nauli, nadenggan, patupaonmu molo dung mate au"Tidak ada gunanya bernyayi, bergendang, berjoget kalian, kalau aku sudah mati, tidak ada gunanya yang bagus, yang baik kalian persembahkan kalau aku sudah mati "uju ni ngolukkon ma nian, tupa ma bahen akka nadenggan, asa tarida sasude holong ni rohami namar natua tua i"Di ujung kehidupanku inilah lakukan segala yang baik, agar terlihat semua kasih sayang hatimu memiliki orang tua. Ini Intermezzo ketiga. Kembali pada Alan Turing, Terlepas dari dia seorang Gay (yang tak akan saya bahas persoalan gay nya melainkan dampak yang ditimbulkanya) sering kali hal hal seperti ini terjadi.Bukan hanya pada orang batak (Karena saya bersuku batak) tapi  sering juga terjadi pada manusia secara umum.Contoh , meminta maaf/Memaafkan seseorang ketika seseorang itu telah pergi, berbuat baik ketika si orang tersebut telah mati, yang ujung ujung nya hanya kesia sia an belaka( dalam konteks dimana orang tersebut dapat langsung merasakan perbuatan kita).Tulisan ini mungkin terasa dipaksakan, tidak nyambung,dan  tidak menarik.Tapi saya pastikan tulisan ini penting jika kita bisa menangkap pesan dari lagu tersebut.Dan pengampunan Ratu Inggris kepada Alan Turing (Atas takdir kelahiranya/Dan mungkin pengaruh lingkungan sehingga dia menjadi seorang Gay) hanyalah contoh dari lagu tersebut.ini intermezzo penutup...

sumber: http://www.kompasiana.com

Senin, 14 Desember 2015

Ini Delapan Musikus yang Berhasil Dikontrak Label Rekaman




Meet The Labels 2015
By

Liputan6.com, Jakarta Ajang Meet The Label 2015 baru saja usai penyelenggarannya. Delapan dari 20 musikus akhirnya mampu menarik perhatian label dan membuat mereka dikontrak untuk rekaman.
Acara berlangsung di Liquid Cafe, Semarang pada Sabtu (12/12/2015) malam. Sejak pukul 19.00 WIB, satu persatu finalis yang terdari band, duo, dan solois saling unjung kebolehan.


Di depan para finalis sudah ada beberapa orang perwakilan dari label yang terdiri dari Universal Music Indonesia, Sony Music Ent Indonesia, Emotion Entertainment, Alfarecords, 267 Musikindo, Seven Music, RPM dan DeMajors. Ratusan penonton juga memenuhi ruang di Liquid Cafe.
Baca Juga
Beberapa kejadian menarik pun muncul di tengah final Meet The Labels 2015. Karena grogi, salah seorang finalis sempat diberikan pertolongan medis lantaran mengalami gangguan pernapasan. Ada juga yang mengalami masalah sound system saat hendak tampil dan membuat mental peserta menjadi drop.


Namun secara keseluruhan, penampilan 20 finalis patut diacungi jempol. Mereka tampil layaknya para musikus yang telah berpengalaman.
"Kalau ada yang nervous itu wajar. Karena panggung Meet The Labels ini panggung pertaruhan buat mereka. Secara keseluruhan, penampilan mereka dahsyat," kata Aldy Lauda dari perwakilan Alfa Record.


Setelah ke-20 finalis tampil, para label kemudian diberikan waktu untuk memilih musikus mana yang akan mereka kontrak. Selang beberapa menit, perwakilan label pun akhirnya mengantongi masing-masing musikus yang mereka pilih. (fei/Des)
Berikut delapan musikus yang berhasil dipinang label:
  • Franco (Jakarta) - RPM
  • Maskot Reborn (Surabaya) - Sony Music
  • Wai Rejected (Pontianak) - Seven Music
  • Kalua (Jakarta) - 267 Musikindo
  • Papperkiss (Bandung) - Universal Music Indonesia
  • Aldhiya (Bogor) - E-Motion
  • Almaira Helve (Semarang) - Alfa Record
  • Dolphin Division (Jakarta) - DeMajors