Tampilkan postingan dengan label intermezzo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label intermezzo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Desember 2015

Wow. game 3D dapat meningkatkan daya ingat! benarkah??

Banyak persepsi dari orang tua yang mengatakan bahwa bermain game itu membuat anak menjadi malas. Tidak satu atau dua orang tua, melainkan hampir sebagian orang tua menganggap game adalah biang kerok malasnya anak-anak mereka dalam kegiatan belajar di rumah maupun sekolah.

Namun nampaknya, anggapan yang sudah melekat dari dulu hingga sekarang itu akan luntur. Dikutip dari Ubergizmo, Selasa (22/12/2015), baru-baru ini dikabarkan bahwa terdapat salah satu penelitian, yang menunjukkan bahwa dengan bermain game akan membuat daya ingat anak meningkat. Penelitian yang dilakukan oleh tim neurobiologis dari Universitas California mengatakan, bahwa dengan bermain game 3 dimensi, maka dapat menigkatkan daya ingat dari sang anak.
Hal ini dengan sesuai data temuan di lapangan, yang dilakukan oleh mereka. Salah satu peneliti, Craig Stark, mengatakan bahwa mereka mencoba 2 game yang berbeda, yaitu game Angry Birds dan Mario 3D World. Dari data temuan tersebut menunjukan bahwa saat diuji dengan sebuah tes yang berkaitan dengan ingatan, anak-anak yang bermain game 3 dimensi mengalami dari peningkatan nilai daripada anak-anak yang bermain game 2 dimensi.
Stark juga menambahkan bahwa pada game 3 dimensi terdapat bermacam-macam hal, tidak seperti pada game 2 dimensi, yang mana membuat anak-anak lebih bebas dalam berekplorasi. Selain itu, dirinya juga mengatakan bahwa game 3 dimensi ini lebih banyak informasi yang bisa dipelajari, sehingga tidak hanya proses rangsangan, namun juga proses mengingat.
Bahkan Stark menyarankan untuk tetap bermain game bagi anak usia remaja, karena dengan bermain game 3 dimensi juga tetap memberikan rangsangan untuk mengingat.

Kamis, 24 Desember 2015

wow....!!! Google siapkan dana hingga US $ 3 miliar untuk luncurkan 110 satelit

Rakasasa internet Google tengah berambisi menyediakan akses internet ke sejumlah wilayah yang sulit jangkau jaringan penyedia layanan internet (ISP). Dengan begitu, hampir semua layanan Google yang berbasis internet bakal lebih banyak lagi penggunanya. Salah satu cara paling efektif guna merealisasikan proyek ambisius tersebut ialah pancaran jaringan internet melalui teknologi satelit. Dana yang dikeluarkan Google pun tak tanggung-tanggung.
google
Pihaknya berencana menyiapkan dana sekitar US$ 1 miliar hingga US$ 3 miliar untuk menghdirkan teknologi satelit. Dan ini masih berupa taksiran angka karena terdapat kemungkinan untuk bisa melambung lebih tinggi lagi dana investasi yang mesti digelontorkan Google. Semuanya itu akan bergantung kepada tahap rancangan akhir jaringan dan tahapan proyek selanjutnya untuk menggandakan jumlah satelit.
Google memang belum memberikan rincian terkait proyek tersebut. Namun, diperkirakan ada sekitar 110 unit satelit kecil yang bakal digarap Google sehingga kesemuanya itu mengitari bumi pada ketinggian di bawah satelit konvensional yang sudah ada.
Proyek ini akan dpimpin langsung oleh Greg Wyler, pendiri 03b NetWork, startup di bidang komunikasi satelit yang kini bergabung ke Google. PIhak Google juga merekrut sejumlah insinyur dari perusahaan satelit terkemuka Space System/Loral LLC.
Satelit sendiri bukan satu-satunya perangkat teknologi yang digunakan untuk merealasikan proyek mahalnya ini. Belum lama ini, pihaknya juga sudah menguji coba balon udara bernama Project Loon yang mampu memancarkan jaringan internet dari udara. Selain itu, Google bersama Titan Aerospace, perusahaan yang diakuisisinya, tengah mengembangkan pesawat tanpa awak atau drone bertenaga solar yang diperuntukan dalam proyek serupa.
“Sambungan internet dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Namun, sepertiga dari penduduk dunia belum memiliki akses terhadap jaringan internet,” kata seorang juru bicara Google yang menambahkan, teknologi ini memungkinkan ratusan juta orang di seluruh dunia bisa memiliki akses internet, seperti dilansir dari Wall Street Journal.

koneksi lebih cepat dan simple menggunakan Li-Fi


hay sobat, dengan pesatnya technology. kini ada terobosan terbaru untuk memaksimalkan koneksi internet anda..bersiaplah untuk menikmati koneksi internet wireless yang pesatnya 100x lebih cepat dibanding wi-fi. Sebuah metode baru yang disebut li-fi, yakni metode pengaliran data dengan menggunakan spektrum yang terlihat daripada menggunakan gelombang radio, telah berhasil diuji coba.
Teknologi li-fi tersebut berhasil diuji coba oleh perusahaan Estonia bernama Velmenni di Tallinn di sebuah kantor.Teknologi ini mampu mengalirkan akses internet 100x lebih cepat dibanding wi-fi tradisional yang kita kenal saat ini. Kecepatan li-fi diklaim hingga 1 gigabit per second (Gbps). Tak seperti wi-fi yang memanfaatkan gelombang radio, li-fi menggunakan tenaga yang didapat dari sumber cahaya, misal bola lampu LED, koneksi internet dan detektor foto.
Dan dalam uji cobanya, Velmenni menggunakan bola lampu berkemampuan li-fi untuk mengirimkan data berkecepatan 1 Gbps. Dalam tes di laboratorium, secara teori kecepatan yang dihasilkan bisa mencapai 224 Gbps. Dalam tes uang dilakukan di sebuah kantor, li-fi akan memungkinkan para pekerja mengakses internet dalam sebuah ruang industri dimana di dalamnya sudah disediakan solusi smart lighting. Menurut chief executive Velmenni, Deepak Solanki, secara komersial teknologi ini memang belum bisa dinikmati saat ini. Konsumen harus bersabar paling tidak tiga hingga empat tahun lagi.
li-fi2
Istilah li-fi sendiri pertama kali diusulkan oleh Prof Harald Haas dari universitas Edinburg yang mendemonstrasikan teknologi pada konferensi Ted (Technology, Entertainment and Design) tahun 2011. Li-fi merupakan singkatan dari light fidelity dimana dalam demonya, profesor tersebut menunjukkan video streaming dari sebuah lampu LED. Prof Hass menggambarkan bahwa di masa depan, milyaran bola lampu bisa menjadi sebuah hotspot nirkabel. Salah satu keuntungan utama yang nyata dari li-fi sendiri, tidak seperti wi-fi, li-fi tidak akan saling mengganggu dengan sinyal radio lain sehingga nantinya li-fi bisa diaplikasikan di pesawat terbang atau tempat lain yang sering mempermasalahkan gangguan sinyal karena koneksi internet nirkabel.
Sementara spektrumdari gelombang radio memiliki pasokan yang pendek, spektrum cahaya yang terlihat adalah 10.000 kali lebih besar yang berarti tidak akan cepat habis dalam waktu dekat. Namun li-fi juga memiliki kekurangan karena kebutuhannya akan cahaya lampu maka teknologi ini tidak bisa digunakan di luar ruangan yang langsung terkena sinar matahari karena sinar matahari bisa mengganggu sinyal.

itu dia sedikit ulasan tentang li-fi. semoga artikel ini menambah wawasan kita tentang perkembangan technology.. 

Rabu, 16 Desember 2015

motivasi untuk si kecil

Motivasi dapat kita kategorikan menjadi dua jenis, berdasarkan sumber atau asal munculnya motivasi.  Yang pertama adalah motivasi internal dan kedua motivasi eksternal. Motivasi internal datangnya dari
dalam diri sendiri seperti misalnya idealisme, komitmen, ideologi dan rasa cinta. Oleh karena asalnya dari dalam diri sendiri, motivasi ini biasa langgeng alias mampu bertahan lama. Sebaliknya motivasi eksternal datang karena faktor stimulus dari luar diri kita. Misalnya: untuk membangun motivasi kerja digunakan strategi promosi atau kenaikan jabatan, anak dijanjikan jalan-jalan ke luar negeri apabila jadi juara kelas, dan lain-lain. Seringkali motivasi eksternal membawa dampak lebih cepat, namun motivasi ini biasa tidak bertahan lama, apalagi jika stimulusnya menghilang. Salah satu cara membangun motivasi internal adalah membangun rasa percaya diri. Percaya diri bisa diartikan sebagai penerimaan terhadap diri sendiri dalam arti yang positif. Kita merasa diri berharga sehingga bisa menerima dan mengendalikan diri kita sepenuhnya. Orang-orang yang memiliki rasa percaya diri bagus terlihat dari sikapnya yang mandiri, disiplin dan mampu mengontrol diri sendiri. Mereka juga bersedia menerima serta menunaikan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Kebiasaan-kebiasaan yang dapat membangun rasa percaya diri tidak terjadi begitu saja melainkan harus ditanamkan sejak kecil. Dengan mendidik anak membangun rasa percaya dirinya, secara tidak langsung kita juga mendidik anak mengembangkan motivasi internalnya. Beberapa kiat yang dapat digunakan untuk membangun rasa percaya diri pada anak sebagai berikut: Berikan Anak Tanggung Jawab Berilah anak-anak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Tentu sesuaikan dengan usia serta kapasitas anak. Misalnya: mengambilkan sesuatu, membantu menyiram bunga dan membeli sesuatu di warung sebelah. Anak yang lebih dewasa tentu dapat diberi tanggungjawab yang lebih besar, seperti pekerjaan rumah tangga ringan dan lain-lain. Berilah pemahaman bahwa anak dapat ikut memberi kontribusi  sehingga mereka berusaha menunaikan tugasnya dengan baik. Biarkan anak menyelesaikan masalahnya Jangan terburu-buru mengambil alih saat anak-anak menemui masalah. Pada keadaan-keadaan tertentu, biasakan anak menganalisa masalahnya dan mengambil inisiatif awal untuk menyelesaikan masalahnya  sendiri. Berikan anak pendampingan dengan memberikan alternatif solusi-solusi yang bisa diambil untuk memecahkan masalah. Sebagai orang tua kita baru bertindak, jika peran orang tua benar-benar dibutuhkan. Berikan pujian Jangan lupa berikan pujian yang pantas jika anak berhasil menyelesaikan masalahnya. Begitu pula saat anak kiat melakukan hal-hal positif atau berhasil mempelajari sesuatu. Belajar dari kegagalan Seringkali anak-anak berhenti berusaha saat menemui jalan buntu atau mengalami kegagalan. Berilah anak-anak pemahaman bahwa kegagalan bukan sebuah hasil. Kegagalan adalah bagian dari sebuah proses belajar yang harus dilalui. Justru dari kegagalan kita bisa mempelajari sesuatu agar hasil berikutnya jauh lebih baik. Hindari kata-kata Negatif Hindari memberi label negatif pada anak-anak kita seperti misalnya: bodoh, cengeng atau anak bandel, dan istilah negatif lain terutama pada anak di akhir usia balita yang notabene sedang giat-giatnya menyerap pembelajaran dari lingkungannya. Lama kelamaan, di alam bawah sadarnya, anak pun akan memberi stigma pada dirinya sesuai dengan label yang kita berikan. Ini sangat kontraproduktif. Alih-alih mau memberi motivasi, anak justru akan semakin bodoh, atau cengeng sesuai dengan kata-kata negatif kita. Beri Contoh Orang tua akan menjadi contoh paling pertama bagi anak. Jadi untuk membangun rasa percaya diri pada anak, orang tua harus terlebih dahulu menunjukkan rasa percaya dirinya yang kuat.  Ini bisa terlihat dari gesture orang tua saat bersosialisasi dengan tetangga atau komunitas, sikap tegas, disiplin serta bagaimana orang tua menghargai dirinya sendiri di depan anak-anak. Selain membangun rasa percaya diri, kiat-kiat lain yang bisa dilakukan untuk membangun motivasi internal anak adalah memberi endorse pada karakter positif anak. Kemudian jika anak mempelajari sesuatu yang sifatnya kompleks, orang tua dapat mengarahkan anak untuk membagi target belajarnya menjadi bagian-bagian yang kecil, kemudian mendampingi anak  untuk mengawal progress belajarnya bagian demi bagian. Misalnya: anak ingin pandai bermain piano, terlebih dahulu tentu anak harus belajar memainkan tangga nada sederhana. Dorong anak untuk bersemangat belajar tangga nada sederhana tersebut, dan pujilah anak untuk setiap pembelajaran yang berhasil, sekecil apapun pencapaiannya. Kiat-kiat ini ampuh digunakan pada masa anak sedang giat-giatnya menyerap pelajaran mulai dari usia 7-10 tahun. Namun sebelum usia tersebut, kita juga sudah bisa mengarahkan anak belajar membangun motivasinya saat anak berusia 4-6 tahun dimana pada rentang usia ini anak mulai belajar menginternalisasi nilai-nilai yang ditanamkan kepadanya. (PG)

sumber : http://www.kompasiana.com/picalgadi/rasa-percaya-diri-kembangkan-motivasi-anak_56702fed8023bda20a98873a

Remaja dan Perilaku konsumtif

Belanja, adalah kata yang sering digunakan sehari-hari dalam konteks perekonomian, baik di dunia usaha maupun di dalam rumah tangga. Namun kata yang sama telah berkembang artinya sebagai suatu cerminan gaya hidup dan rekreasi pada masyarakat kelas ekonomi tertentu. Belanja juga punya arti tersendiri bagi remaja. 




Pola Hidup Konsumtif
Kata “konsumtif” (sebagai kata sifat; lihat akhiran –if) sering diartikan sama dengan kata “konsumerisme”. Padahal kata yang terakhir ini mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Sedangkan konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.

Memang belum ada definisi yang memuaskan tentang kata konsumtif ini. Namun konsumtif biasanya digunakan untuk menunjuk pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. Misalnya sebagai ilustrasi, seseorang memiliki penghasilan 500 ribu rupiah. Ia membelanjakan 400 ribu rupiah dalam waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Sisa 100 ribu ia belanjakan sepasang sepatu karena sepatu yang dimilikinya untuk bekerja sudah rusak. Dalam hal ini orang tadi belum disebut berperilaku konsumtif. Tapi apabila ia belanjakan untuk sepatu yang sebenarnya tidak ia butuhkan (apalagi ia membeli sepatu 200 ribu dengan kartu kredit), maka ia dapat disebut berperilaku konsumtif.
Contoh ini relatif mudah untuk menentukan apakah seseorang telah berperilaku konsumtif atau tidak. Tapi coba bayangkan seseorang yang memiliki penghasilan 1 juta, untuk memenuhi kebutuhan pokoknya 400 ribu, dan 300 ribu digunakan untuk membeli barang yang tidak dia butuhkan, sedang sisanya digunakan untk menambah modalnya dalam usaha. Apakah ia dapat digolongkan berperilaku konsumtif?

Perilaku Konsumtif Remaja
Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.

Di kalangan remaja yang memiliki orang tua dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama di kota-kota besar, mall sudah menjadi rumah kedua. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Alhasil, muncullah perilaku yang konsumtif.

Dari sejumlah hasil penelitian, ada perbedaan dalam pola konsumsi antara pria dan wanita. Juga terdapat sifat yang berbeda antara pria dan wanita dalam perilaku membeli. Perbedaan tersebut adalah:


Wanita:
1. lebih tertarik pada warna dan bentuk, bukan pada hal teknis dan kegunaannya
2. tidak mudah terbawa arus bujukan penjual
3. menyenangi hal-hal yang romantis daripada obyektif
4. cepat merasakan suasana toko
5. senang melakukan kegiatan berbelanja walau hanya window shopping (melihat-lihat saja tapi tidak membeli).

Pria:
1. mudah terpengaruh bujukan penjual
2. sering tertipu karena tidak sabaran dalam memilih barang
3. mempunyai perasaan kurang enak bila tidak membeli sesuatu setelah memasuki toko
4. kurang menikmati kegiatran berbelanja sehingga sering terburu-buru mengambil keputusan membeli.


Daftar ini masih dapat dipertanyakan apakan memang benar ada gaya yang berbeda dalam membeli antara pria dan wanita. Selain itu, penelitian-penelitian yang telah dilakukan belum mendapatkan hasil yang konsisten apakah remaja pria atau waniata yang lebih banyak membelanjakan uangnya.

Apakah Konsumtif Berbahaya?
Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebaga usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in. Remaja dalam perkembangan kognitif dan emosinya masih memandang bahwa atribut yang superfisial itu sama penting (bahkan lebih penting) dengan substansi. Apa yang dikenakan oleh seorang artis yang menjadi idola para remaja menjadi lebih penting (untuk ditiru) dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan artis idolanya itu untuk sampai pada kepopulerannya.

Menjadi masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar pada remaja ini dilakukan secara berlebihan. Pepatah “lebih besar pasak daripada tiang” berlaku di sini. Terkadang apa yang dituntut oleh remaja di luar kemampuan orang tuanya sebagai sumber dana. Hal ini menyebabkan banyak orang tua yang mengeluh saat anaknya mulai memasuki dunia remaja. Dalam hal ini, perilaku tadi telah menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya.

Perilaku konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi. Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan etika.

Oleh Raymond Tambunan, Psi.
Sumber: Informasi Psikologi Online